Selasa, 01 Oktober 2013

Cinta: Takdir atau Pilihan...?

CINTA:
TAKDIR ATAUKAH PILIHAN?
(Penulis: Ibn Qayyim Al-Jauziyah-Raudhatul Muhibbin wan Nuzhatul Musytaqin)

Cinta, apakah ia tumbuh karena pilihan diri sendiri, ataukah ia merupakan ketetapan yang tidak dapat di sangkal manusia?
Cinta dan mencintai diibaratkan Ibn Qayyim Al-Jauziyah dengan meminum arak dan mabuk karena arak yang diminumnya.
Meminum arak adalah sesuatu yang bersifat ikhtiyari (pilihan), sedangkan keadaan mabuk yang kemudian terjadi setelahnya adalah sesuatu yang sudah pasti (idhtirarari). Ketika penyebab terjadi karena pilihannya sendiri, maka mabuk yang kemudian terjadi bukan lagi sesuatu yang bisa diampuni karena alasan tidak bisa melakukan pilihan.
Benih-benih cinta serta sebab pemicunya merupakan hal yang bersifat ikhtiyari yang keberadaannya di bawah kewajiban yang dibebankan. Pandangan, pikiran dan kehendak untuk mencintai adalah urusan yang bersifat ikhtiyari. Dan apabila ada sebab, maka hal yang terjadi kemudian adalah sesuatu yang tidak ikhtiyari lagi melainkan idhtirari.
Tidak dapat disangkal bahwa mengumbar pandangan dan terlena dengan pikiran sama kedudukannya dengan orang mabuk karena minum arak. Yaitu dicela karena sebab yang diperbuatnya. Apabila cinta tersebut ada karena sebab yang tidak dicela yaitu mengumbar pandangan, maka tentu cinta tidak menjadi tercela.
Cinta yang diakibatkan oleh pandangan tiba-tiba yang tidak sengaja, lalu memalingkan pandangannya ke arah lain. Cinta yang tumbuh tersebut akibat dari pandangan yang bukan merupakan pilihannya. Jika kemudian ada rasa yang menguasainya, maka ia tidak tercela karena ada usaha-usaha untuk terus menghindarinya.
Jadi, cinta; takdir ataukah pilihan?
wallahu'alaam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar