Minggu, 15 Desember 2013

Dua Sifat Ahli Syurga

Menjadi ahli syurga menjadi dambaan dan harapan setiap umat yang beriman. Dalam sebuah hadits yang disampaikan Abdullah bin Amr dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, diceritakan bahwa selama 3 hari berturut-turut Nabi SAW meminta para sahabat agar memperhatikan seorang sahabat yang baru saja selesai berwudhu dan masuk ke mesjid. Rasululloh SAW bersabda kepada para sahabatnya:
"akan nampak dihadapan kalian salah seorang penghuni syurga"

Tidak lama setalah itu, masuklah seseorang ke dalam mesjid dan tak seorangpun diantara para sahabat yang mengenali orang itu, baik namanya maupun asalnya. Dia hanya orang biasa dari kalangan Anshar. Namun mengapa Nabi SAW sampai 3 hari berturut-turut mengatakan bahwa orang tersebut min ahlil jannah (Penghuni Syurga)? Apakah keistimewaan orang tersebut sampai menjadi perhatian Nabi SAW?

Karena rasa penasaran, Abdullah bin Amr membuntuti orang tersebut sampai ke rumahnya agar ia mengetahui siapa orang itu sebenarnya, bagaimana cara hidupnya sehari-hari, bagaimana ibadahnya, dan apa saja keistimewaan yang mengangkat harkat derajatnya menjadi ahlul jannah? Selanjutnya Abdullah bin Amr meminta izin untuk bertamu di rumahnya selama 3 hari. Abdullah bin Amr diterima dengan gembira, dihormati dengan wajar, tidak berlebihan dan tidak dibuat-buat, penuh dengan kesederhanaan dan keikhlasan.

Siang dan malam Abdullah bin Amr meneliti gerak-gerik, tutur kata, dan amal ibadah tuan rumah, tetapi tidak menemukan hal-hal yang luar biasa. Ibadahnya tidak melebihi contoh yang diajarkan Nabi SAW. Siang hari ia bekerja dengan rajin, tidak ada waktu yang terbuang dan senantiasa menerapkan prinsip-prinsip yang diajarkan Rasululloh SAW, yaitu hanya mencari rezeki dengan cara yang halal, serta ridho dan qona'ah atas rezeki dari Allah SWT. Pada malam hari ia beristirahat, setiap kali terbangun terdengar ucapan dzikir kepada Allah. Siang malam tak lepas dari keislamannya, selalu ingat bahwa ia hamba Allah. Sholat malamnya tidak berlebihan misal semalam suntuk, hak untuk kesehatannya, badannya, dan untuk isterinya semuanya terpenuhi.

Selama 3 malam itulah Abdullah bin Amr sama sekali tidak tidur. Dia khawatir ada amal ibadah yang dilakukan tuan rumah yang luput dari penglihatannya. Dan ketika waktu yang dijanjikan untuk bertamu telah habis, Abdullah bin Amr terpaksa harus pamit padahal belum berhasil mendapatkan amal ibadah tuan rumah yang luar biasa. Akhirnya sebelum pamit ia memutuskan untuk bertanya, "Amal ibadah apakah yang saudara lakukan sehingga Nabi SAW menaruh perhatian yang besar terhadap saudara?"
Tuang rumah menjawab, "Tidak ada selain apa yang engkau lihat, hanya saja aku belum pernah melakukan kepalsuan terhadap siapapun dari kalangan umat Islam, dan aku tidak pernah dengki kepada orang lain yang dianugerahi sesuatu oleh Allah"
Maka Abdullah bin Amr berkata, "Inilah yang telah meningkatkan derajat kamu".
***

Dari kisah tersebut dapat disimpulkan bahwa keistimewaan orang tersebut terletak pada dua sifat istimewa yang dimilikinya, yaitu: 
1. Tidak menjadi manusia yang palsu.
Isim mesti cocok dengan musamma (nama mesti cocok dengan yang diberi nama). Bila ia seorang muslim, ia harus bertindak, bergerak, berpikir, berkata dan bersikap seperti seorang muslim, sesuai dengan ajaran agamanya yaitu Islam. Bersih dari sifat-sifat kemunafikan. Lisan, perbuatan, dan iman selalu searah dan setujuan. Dalam QS. al-Anfal ayat 1-4 Allah SWT menjelaskan bagaimana gambaran seorang mu'min sebenarnya. Orang mu'min dan muslim yang disebutkan Nabi SAW sebagai min ahlil jannah tersebut bukanlah manusia yang palsu. Bukan manusia yang hanya ingin disebut muslim dan mu'min, akan tetapi hati, sikap dan perilakunya tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam.

2. Bebas dari penyakit dengki
Adapun sifat kedua yang dimiliki orang tersebut adalah terbebasnya diri dari sifat dengki, memberi kesempatan kepada sesama manusia untuk mendapat kemajuan dan kelebihan. Panas hati karena melihat orang lain yang dianugerahi kemajuan kemudian berusaha agar juga mendapat kemajuan serupa  adalah dibenarkan dan bukan termasuk kedengkian. Yang dimaksud hasud atau dengki adalah panas hati yang disertai dengan tindakan jahat dan memfitnah untuk menjatuhkan atau menggagalkan usaha orang lain ke arah kemajuan dan kebahagiaan. Hal itu merupakan perbuatan yang tercela. Hasud seperti itulah yang dilarang Nabi SAW, sebagaimana sabdanya:
"Jauhkanlah dirimu dari dengki, karena sesungguhnya dengki itu memakan kebaikan-kebaikanmu, sebagaimana halnya api membakar kayu" (HR. Abu Daud)

Yuk, kita berlomba-lomba untuk menjadi manusia yang digelari ahlul jannah, ^_^ Bismillah...

(dikutip dari Buletin Risalah Jum'ah edisi 10 Shafar 1435 H oleh Ust. Supriatna, M. Pd)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar