Menjadi ahli syurga menjadi dambaan dan harapan setiap umat yang beriman. Dalam sebuah hadits yang disampaikan Abdullah bin Amr dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, diceritakan bahwa selama 3 hari berturut-turut Nabi SAW meminta para sahabat agar memperhatikan seorang sahabat yang baru saja selesai berwudhu dan masuk ke mesjid. Rasululloh SAW bersabda kepada para sahabatnya:
"akan nampak dihadapan kalian salah seorang penghuni syurga"
Tidak lama setalah itu, masuklah seseorang ke dalam mesjid dan tak seorangpun diantara para sahabat yang mengenali orang itu, baik namanya maupun asalnya. Dia hanya orang biasa dari kalangan Anshar. Namun mengapa Nabi SAW sampai 3 hari berturut-turut mengatakan bahwa orang tersebut min ahlil jannah (Penghuni Syurga)? Apakah keistimewaan orang tersebut sampai menjadi perhatian Nabi SAW?
Karena rasa penasaran, Abdullah bin Amr membuntuti orang tersebut sampai ke rumahnya agar ia mengetahui siapa orang itu sebenarnya, bagaimana cara hidupnya sehari-hari, bagaimana ibadahnya, dan apa saja keistimewaan yang mengangkat harkat derajatnya menjadi ahlul jannah? Selanjutnya Abdullah bin Amr meminta izin untuk bertamu di rumahnya selama 3 hari. Abdullah bin Amr diterima dengan gembira, dihormati dengan wajar, tidak berlebihan dan tidak dibuat-buat, penuh dengan kesederhanaan dan keikhlasan.
Siang dan malam Abdullah bin Amr meneliti gerak-gerik, tutur kata, dan amal ibadah tuan rumah, tetapi tidak menemukan hal-hal yang luar biasa. Ibadahnya tidak melebihi contoh yang diajarkan Nabi SAW. Siang hari ia bekerja dengan rajin, tidak ada waktu yang terbuang dan senantiasa menerapkan prinsip-prinsip yang diajarkan Rasululloh SAW, yaitu hanya mencari rezeki dengan cara yang halal, serta ridho dan qona'ah atas rezeki dari Allah SWT. Pada malam hari ia beristirahat, setiap kali terbangun terdengar ucapan dzikir kepada Allah. Siang malam tak lepas dari keislamannya, selalu ingat bahwa ia hamba Allah. Sholat malamnya tidak berlebihan misal semalam suntuk, hak untuk kesehatannya, badannya, dan untuk isterinya semuanya terpenuhi.
Selama 3 malam itulah Abdullah bin Amr sama sekali tidak tidur. Dia khawatir ada amal ibadah yang dilakukan tuan rumah yang luput dari penglihatannya. Dan ketika waktu yang dijanjikan untuk bertamu telah habis, Abdullah bin Amr terpaksa harus pamit padahal belum berhasil mendapatkan amal ibadah tuan rumah yang luar biasa. Akhirnya sebelum pamit ia memutuskan untuk bertanya, "Amal ibadah apakah yang saudara lakukan sehingga Nabi SAW menaruh perhatian yang besar terhadap saudara?"
Tuang rumah menjawab, "Tidak ada selain apa yang engkau lihat, hanya saja aku belum pernah melakukan kepalsuan terhadap siapapun dari kalangan umat Islam, dan aku tidak pernah dengki kepada orang lain yang dianugerahi sesuatu oleh Allah"
Maka Abdullah bin Amr berkata, "Inilah yang telah meningkatkan derajat kamu".
***
Dari kisah tersebut dapat disimpulkan bahwa keistimewaan orang tersebut terletak pada dua sifat istimewa yang dimilikinya, yaitu:
1. Tidak menjadi manusia yang palsu.
Isim mesti cocok dengan musamma (nama mesti cocok dengan yang diberi nama). Bila ia seorang muslim, ia harus bertindak, bergerak, berpikir, berkata dan bersikap seperti seorang muslim, sesuai dengan ajaran agamanya yaitu Islam. Bersih dari sifat-sifat kemunafikan. Lisan, perbuatan, dan iman selalu searah dan setujuan. Dalam QS. al-Anfal ayat 1-4 Allah SWT menjelaskan bagaimana gambaran seorang mu'min sebenarnya. Orang mu'min dan muslim yang disebutkan Nabi SAW sebagai min ahlil jannah tersebut bukanlah manusia yang palsu. Bukan manusia yang hanya ingin disebut muslim dan mu'min, akan tetapi hati, sikap dan perilakunya tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam.
2. Bebas dari penyakit dengki
Adapun sifat kedua yang dimiliki orang tersebut adalah terbebasnya diri dari sifat dengki, memberi kesempatan kepada sesama manusia untuk mendapat kemajuan dan kelebihan. Panas hati karena melihat orang lain yang dianugerahi kemajuan kemudian berusaha agar juga mendapat kemajuan serupa adalah dibenarkan dan bukan termasuk kedengkian. Yang dimaksud hasud atau dengki adalah panas hati yang disertai dengan tindakan jahat dan memfitnah untuk menjatuhkan atau menggagalkan usaha orang lain ke arah kemajuan dan kebahagiaan. Hal itu merupakan perbuatan yang tercela. Hasud seperti itulah yang dilarang Nabi SAW, sebagaimana sabdanya:
"Jauhkanlah dirimu dari dengki, karena sesungguhnya dengki itu memakan kebaikan-kebaikanmu, sebagaimana halnya api membakar kayu" (HR. Abu Daud)
Yuk, kita berlomba-lomba untuk menjadi manusia yang digelari ahlul jannah, ^_^ Bismillah...
(dikutip dari Buletin Risalah Jum'ah edisi 10 Shafar 1435 H oleh Ust. Supriatna, M. Pd)
"Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia." (QS. Al-Hajj, 22: 50)
Minggu, 15 Desember 2013
Sabtu, 14 Desember 2013
Belajar dari Keledai Si Petani yang Pintar
Pengalaman bukanlah apa yang dialami seseorang, melainkan apa yang dilakukan seseorang terhadap apa yang terjadi pada dirinya.
KELEDAI
Seorang petani yang tinggal di daerah Sumatera Selatan memiliki keledai satu-satunya sebagai alat transportasi sehari-hari. Suatu hari keledai itu jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis sangat memilukan selama berjam-jam, sementara si petani tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan keledai tersebut. Segala upaya telah dicoba untuk mengangkat keledai itu dari dalam sumur, tapi tidak membuahkan hasil.
Akhirnya setelah berdiskusi dengan saudaranya diperoleh kesimpulan untuk membiarkan saja keledai itu di dalam sumur untuk selanjutnya ditimbun. Alasannya, hewan tersebut sudah tua dan tidak terlalu berguna lagi jika ditolong. Dipihak lain, sumur itu sendiri juga sebenarnya kurang produktif. Dengan demikian, menutup sumur bersama dengan keledainya merupakan keputusan yang tepat.
Lalu ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantu. Mereka datang dengan membawa sekop, cangkul, dan peralatan lainnya dan mulai menimbun tanah ke dalam sumur. Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Namun lama kelamaan semua menjadi takjub ketika si keledai menjadi diam dan tidak berteriak lagi.
Setelah beberapa sekop tanah mulai dituangkan lagi ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang melihat apa yang dilakukan si keledai. Sekalipun punggungnya terus menerus ditimpa oleh tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Begitu seterusnya, tetangga-tetangga petani terus menuangkan tanah ke atas punggung hewan itu, sedang si keledai juga terus mengguncangkan badannya dan melangkah naik hingga mendekati mulut sumur. Tak pelak lagi, semua orang terpesona ketika melihat si keledai melompati tepi sumur dan melarikan diri.
***
Terkadang kita merasa begitu tertekan dengan permasalahan hidup yang datang bertubi-tubi, baik itu masalah keluarga maupun pekerjaan. Setiap hari timbunan masalah itu semakin berat saja. Belajar dari kisah si keledai di atas, bukankah setiap permasalahan yang ada dapat dijadikan batu pijakan untuk berbuat sesuatu yang lebih baik lagi?
Kita juga tidak bisa menyesali apa yang terjadi, sekalipun rasanya sudah tidak mungkin untuk keluar dari masalah yang ada. Namun dengan mengubah cara pandang terhadap suatu masalah, akan ditemukan solusi-solusi baru yang mungkin tidak dapat ditemukan sebelumnya. Pendek kata, ketika menghadapi masalah sesungguhnya kita sedang menikmati pengalaman hidup yang mungkin tidak akan terulang kembali. Pengalaman bukanlah apa yang dialami seseorang, melainkan apa yang dilakukan seseorang terhadap apa yang terjadi pada dirinya.
Persepsi orang lain akan berubah ketika kita bisa bertahan dan mengatasi masalah yang dihadapi dengan tegar dan tabah. Cara pandang dan penilaian orang justru akan berbalik arah ketika kita bisa memandang permasalahan yang kita hadapi secara positif. Kebesaran jiwa seseorang memang diuji pada saat ia menghadapi permasalahan hidup.
Seseorang yang memiliki mental dan perkembangan emosi yang optimal bukan dilihat dari kekayaan atau jabatannya yang tinggi, bukan pula dari pernyataan-pernyataannya yang muluk-muluk, dan bukan pula dari palu kekuasaan yang dimilikinya untuk menekan orang lain, melainkan dari dapur api pengujian hidup.
'Aslinya' seseorang akan tampak ketika seluruh aksesoris kehidupan yang dimilikinya lepas. Selama manusia hidup, pasti banyak permasalahan yang terus menekannya. Disisi lain, dalam menjalani kehidupan juga kita akan berhadapan dengan pilihan-pilihan yang harus segera diputuskan. Keledai, dalam cerita di atas telah memutuskan untuk bangkit dan mencari jalan keluar. Dia telah menjadi bagian dari pemecahan masalah bukan bagian dari permasalahan itu.
Semakin individu terbang tinggi, semakin kuat pula tarikan untuk menghambatnya. Semakin gemilang seseorang dalam prestasi dan implementasi kompetensi yang dimilkinya, semakin keras pula arus untuk menekannya. Berkenaan dengan hal itu, maka pilihan tetap ada dipundak kita masing-masing. Mau tetap terbang tinggi bersama kompetensi yang dimiliki sambil mengucapkan selamat tinggal kepada para pecundang, atau mengambil keputusan untuk turun lalu hidup bersama pecundang.
Sikap hidup yang disuguhkan Parlindungan Marpaung kedalam kisah berjudul KELEDAI ini semoga bisa menjadi inspirasi dan hikmah yang mendalam, yang membantu kita menemukan jalan menuju garis finish yang indah ^_^
(dikutip dari Setengah Isi Setengah kosong karya Parlindungan Marpaung)
KELEDAI
Seorang petani yang tinggal di daerah Sumatera Selatan memiliki keledai satu-satunya sebagai alat transportasi sehari-hari. Suatu hari keledai itu jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis sangat memilukan selama berjam-jam, sementara si petani tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan keledai tersebut. Segala upaya telah dicoba untuk mengangkat keledai itu dari dalam sumur, tapi tidak membuahkan hasil.
Akhirnya setelah berdiskusi dengan saudaranya diperoleh kesimpulan untuk membiarkan saja keledai itu di dalam sumur untuk selanjutnya ditimbun. Alasannya, hewan tersebut sudah tua dan tidak terlalu berguna lagi jika ditolong. Dipihak lain, sumur itu sendiri juga sebenarnya kurang produktif. Dengan demikian, menutup sumur bersama dengan keledainya merupakan keputusan yang tepat.
Lalu ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantu. Mereka datang dengan membawa sekop, cangkul, dan peralatan lainnya dan mulai menimbun tanah ke dalam sumur. Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Namun lama kelamaan semua menjadi takjub ketika si keledai menjadi diam dan tidak berteriak lagi.
Setelah beberapa sekop tanah mulai dituangkan lagi ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang melihat apa yang dilakukan si keledai. Sekalipun punggungnya terus menerus ditimpa oleh tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Begitu seterusnya, tetangga-tetangga petani terus menuangkan tanah ke atas punggung hewan itu, sedang si keledai juga terus mengguncangkan badannya dan melangkah naik hingga mendekati mulut sumur. Tak pelak lagi, semua orang terpesona ketika melihat si keledai melompati tepi sumur dan melarikan diri.
***
Terkadang kita merasa begitu tertekan dengan permasalahan hidup yang datang bertubi-tubi, baik itu masalah keluarga maupun pekerjaan. Setiap hari timbunan masalah itu semakin berat saja. Belajar dari kisah si keledai di atas, bukankah setiap permasalahan yang ada dapat dijadikan batu pijakan untuk berbuat sesuatu yang lebih baik lagi?
Kita juga tidak bisa menyesali apa yang terjadi, sekalipun rasanya sudah tidak mungkin untuk keluar dari masalah yang ada. Namun dengan mengubah cara pandang terhadap suatu masalah, akan ditemukan solusi-solusi baru yang mungkin tidak dapat ditemukan sebelumnya. Pendek kata, ketika menghadapi masalah sesungguhnya kita sedang menikmati pengalaman hidup yang mungkin tidak akan terulang kembali. Pengalaman bukanlah apa yang dialami seseorang, melainkan apa yang dilakukan seseorang terhadap apa yang terjadi pada dirinya.
Persepsi orang lain akan berubah ketika kita bisa bertahan dan mengatasi masalah yang dihadapi dengan tegar dan tabah. Cara pandang dan penilaian orang justru akan berbalik arah ketika kita bisa memandang permasalahan yang kita hadapi secara positif. Kebesaran jiwa seseorang memang diuji pada saat ia menghadapi permasalahan hidup.
Seseorang yang memiliki mental dan perkembangan emosi yang optimal bukan dilihat dari kekayaan atau jabatannya yang tinggi, bukan pula dari pernyataan-pernyataannya yang muluk-muluk, dan bukan pula dari palu kekuasaan yang dimilikinya untuk menekan orang lain, melainkan dari dapur api pengujian hidup.
'Aslinya' seseorang akan tampak ketika seluruh aksesoris kehidupan yang dimilikinya lepas. Selama manusia hidup, pasti banyak permasalahan yang terus menekannya. Disisi lain, dalam menjalani kehidupan juga kita akan berhadapan dengan pilihan-pilihan yang harus segera diputuskan. Keledai, dalam cerita di atas telah memutuskan untuk bangkit dan mencari jalan keluar. Dia telah menjadi bagian dari pemecahan masalah bukan bagian dari permasalahan itu.
Semakin individu terbang tinggi, semakin kuat pula tarikan untuk menghambatnya. Semakin gemilang seseorang dalam prestasi dan implementasi kompetensi yang dimilkinya, semakin keras pula arus untuk menekannya. Berkenaan dengan hal itu, maka pilihan tetap ada dipundak kita masing-masing. Mau tetap terbang tinggi bersama kompetensi yang dimiliki sambil mengucapkan selamat tinggal kepada para pecundang, atau mengambil keputusan untuk turun lalu hidup bersama pecundang.
Sikap hidup yang disuguhkan Parlindungan Marpaung kedalam kisah berjudul KELEDAI ini semoga bisa menjadi inspirasi dan hikmah yang mendalam, yang membantu kita menemukan jalan menuju garis finish yang indah ^_^
(dikutip dari Setengah Isi Setengah kosong karya Parlindungan Marpaung)
Langganan:
Komentar (Atom)